ORANG TUA DAN ANAK
(Tulisan ini saya copy dari catatan saya di FACEBOOK, yg saya tulis pd tgl 27 Februari 2009)
Seorang sahabat menggendong ibunya dari Madinah ke Mekkah untuk mengerjakan haji. Kemudian ditanyakan kepada Rasulullah, apakah hal demikian cukup untuk membalas jasa-jasa ibu, Rasul menjawab : “Tidak! Tak sebanding untuk membalas meskipun setetes susu dari ibumu.”
Alkisah, disuatu desa, hiduplah seorang anak dengan ibu yang buta, sedangkan sang ayah tak sempat melihat kelahiran putranya karena kecelakaan yang merenggut nyawanya. Meskipun dengan kebutaannya itu, sang ibu tetap merawat si anak dengan penuh kasih dan cinta. Kadang rela tak makan, asalkan si anak terpenuhi gizinya. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun…si anak beranjak remaja dan dewasa. Dalam ‘kedewasaannya’ sang anak mulai merasa malu dicemooh oleh teman-temannya karena kebutaan sang ibu. Singkat cerita, si anak menikah dan dengan sengaja meninggalkan sang ibu dengan alasan pekerjaan yang didapatnya berada dikota besar dan memilih hidup dengan istri yang dicintainya.
Tanpa merasa telah dihinakan…sang ibu justru memberikan ridhanya pada anak tersebut. Dan pada malam-malam setelah berpisah dari si anak, sang ibu selalu mendoakan kebaikan bagi putra tercinta pada setiap sholatnya, bahkan pada setiap helaan nafasnya. Rasa rindu tak tertahankan karena bertahun-tahun tak berjumpa dengan si anak, membuat sang ibu memutuskan untuk bersilaturrahmi pada putra tercinta di ibukota. Alih-alih bahagia melihat sang ibu didepan pintu rumahnya, putra tercintanya malah menolak kehadirannya. “Tak cukupkah ibu mempermalukan diriku selama aku sekolah dulu?…Tak puaskah ibu membuat aku terhina didepan teman-teman sepermainanku?…Ibu sengaja datang kesini untuk membuat aku hina didepan istri dan anak-anakku, begitu kan bu..?! Lebih baik ibu segera kembali ke desa, sebelum istri dan anak-anakku melihat ibu!”
Dengan hati berdarah, pulanglah sang ibu, tanpa sempat menyentuh putra tercinta.
Dalam perjalanan kembali ke desa, mobil angkutan yang membawa sang ibu mengalami kecelakaan.
Tersampaikan berita kecelakaan tersebut pada putra tercinta. Dengan perasaan sedikit menyesal, si anak mau menemui ibunya di rumah sakit.
“Anakku, kau tak perlu mengharuskan dirimu menemui ibu disini. Ibu tahu engkau malu mempunyai ibu yang buta seperti ibumu ini, nak… Tapi tahukah kau nak, apa penyebab kebutaan ibu ? Saat usiamu 1 tahun…kau mengalami sakit, karena ketidaktahuan ibu tentang penyakitmu, membuat penyakitmu semakin parah dan membuat kau kehilangan penglihatanmu. Ibu merasa berdosa sekali, karena hanya kau satu-satunya anak ibu, ibu memutuskan memberikan mata ibu untukmu, nak. Karena ibu merasa sudah cukup melihat indahnya pelangi, kerlip bintang, hijaunya sawah-sawah kita…. Ibu ingin kau juga bisa melihat apa yang pernah ibu lihat dulu.”
Subhanallah….betapa tulusnya cinta seorang ibu.
“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain-Nya dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (Al-Isra : 23)
Di zaman Rasulullah SAW, seorang laki-laki pernah bertanya, siapakah yang berhak aku pergauli dengan baik ? Rasul menjawab : ibumu. Kemudian laki-laki itu bertanya, siapa lagi ya Rasul ? ibumu…jawab Rasul. Bertanya lagi laki-laki itu, lalu siapa lagi ya Rasul ? Lagi-lagi Rasulullah menjawab : ibumu. Lalu siapa lagi ? tanya laki-laki tersebut belum puas…, Rasul menjawab : bapakmu.
Anak-anak tentu ingat banyak hal tentang apa yang dikatakan oleh ibu. Begitu pula ayah. Pujian maupun nasehat yang diberikan seorang ayah kepada anaknya, akan memberikan perkembangan tersendiri bagi kepribadian anak. Maka, janganlah kita berkata kasar pada anak-anak kita, karena hal tersebut dapat merubah persepsi anak-anak. Janganlah kita menyakiti anak-anak kita dengan lidah. Meski terkadang kita tak sadar ternyata lisan kita telah mampu melakukan perubahan pada jiwa-jiwa yang akan menjadi generasi penerus.
Lalu kenapa ada anak-anak yang tidak menyadari cinta dan kasih sayang dari orangtua mereka ? Kenapa masih kita temukan anak-anak yang membantah pada orangtuanya ? Karena komunikasikah ? Pergaulankah ? Entahlah….
Tak sedikit dari anak-anak, bahkan mungkin diri kita sendiri…lebih mengutamakan orang lain dibandingkan dengan orangtua yang melahirkan, membesarkan, memberikan perlindungan pada kita.
Pada beberapa kasus, ada anak yang dengan tega melakukan kekerasan bahkan membunuh orangtua mereka sendiri. Na’udzubillahi mindzalik….
“Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa.” (An Nisa : 107)
Semoga…
—–sebagai orang tua….kita mampu memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita
—–sebagai anak….kita mampu berbakti dengan rasa tulus dan ikhlas pada orangtua kita
Semoga…
—–keluarga kita menjadi keluarga yang utuh
—–keluarga kita menjadi keluarga yang meraih kebahagiaan dunia dan akhirat
Semoga…
Wallahualam
Plkry
akhir Februari ‘09
—- ayie —-
(Mencoba memberikan ilustrasi terhadap pertanyaan dari Bang Ben Judo : @ shout status 27 Februari ‘09 - 11.34 waktu FB)





Leave a Reply